Kamis, 19 Maret 2015

Lebih Destari ... :)

saat ku tenggelam dalam sendu
waktupun enggan untuk berlalu
ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
entah untuk siapapun itu
semakin ku lihat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
tetapi satu sinar terangi jiwaku
saat ku melihat senyummu
reff:
dan kau hadir merubah segalanya
menjadi lebih indah
kau bawa cintaku setinggi angkasa
membuatku merasa sempurna
dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
berdua denganmu selama-lamanya
kaulah yang terbaik untukku
kini ku ingin hentikan waktu
bila kau berada di dekatku

bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
kan ku petik satu untukmu
bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
kan ku petik satu untukmu
Adera

Rabu, 18 Maret 2015

Yang Terlewatkan - dari yang Tak pernah terlewatkan :)






Jogja Istimewa dalam 3 Kata


Edisi Kangen Jogja, Kenapa Jogjakarta itu “ngangenin”, Kenapa selalu ingin kembali ke Jogja, setiap orang pasti memiliki alasan yang berbeda-beda.
Setelah beberapa bulan ini saya tinggal di Solo, rasa kangen itu tiba-tiba datang. Rasa kangen yang tak terbendung lagi untuk kembali ke kota itu, Jogjakarta, memang selalu di hati. Ada beberapa alasan kenapa kangen itu hadir. (1) makanan, (2) tempat-tempat favorit, dan (3) tempat belajar.

(1) Makanan, entah kenapa tiba-tiba ingat ketika pergi ke angkringan sore-sore hanya untuk beli satu nasi kucing dan sate telur puyuh, sambil ngemil gorengan tempe, kadang aku suka mengambil dua nasi kucing, karena kalau mengambil satu saja berasa ada yang kurang. Tak lupa ditutup dengan es teh khas angkringan. Segar. Di beberapa tempat malah ada kopi jos dan es tape hijau, minuman itu mungkin lebih segar dari pada arak yang selalu diminum oleh Abu Nawas sebelum menulis puisi-puisi Arab. Yang kedua, Bakpia, wah rasa manisnya membuat hidup ini semakin manis.

(2) Tempat-tempat favorit. Cukup banyak mungkin yang harus dielaborasi, namun clue nya adalah pantai, bulevard Ugm, dan masjid Syuhada’. Pastinya Malioboro dan alun-alun kidul akan selalu di hati.

(3) Tempat Belajar, entah mengapa saya selalu kangen akan intelektual Jogja, karena semua sumber ilmu ada di sana, saya mulai mengenal jurnal-jurnal ilmiah JSTOR, Springer, Cambridge, dll di Jogjakarta. Buku-buku selalu baru. Di sanalah saya menemukan duniaku, ketika sepi mendera buku memang teman yang baik untuk membunuh sepi.
Namun kini, Solo adalah pijakanku, hatiku akan selalu mengingatmu Jogja, kenangan indah tertimbun di sana, Sejengkal dari Solo ada kota kecil yang menawan, Klaten, cerita nya akan menyusul karena Solo Klaten dan Jogja adalah Jalur Sutraku.

Surakarta, 18 Maret 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Apa yang Saya Ingat .. ?

selamat Pagi sobat Blogger, dimanapun kalian berada semoga Rahmat Allah selalu menyertai, ketika saya melihat foto di atas, saya masih ingat masa-masa ketika harus menjalani Diklat Prajabatan Cpns Kemdikbud di Sawangan Depok Jawa Barat. Apa yang saya ingat ? Yang saya ingat adalah ketika saya secara random harus ditunjuk sebagai ketua Angkatan Prajab, hanya gara-gara badan saya yang besar dan wajah saya yang orang bilang tampak wise - bijaksana, padahal kenyataanya wajah saya adalah wajah boros, umur masih muda tapi wajah sudah seperti bapak-bapak beranak lima hahaha, fokus fokus mari kita kembali ke permasalahan, Apa yang saya ingat dari foto di atas adalah betapa susahnya melatih diri untuk berbicara di depan umum. Foto di atas bukanlah foto orang jualan kaos olah raga, melainkan foto bagaimana saya harus menjelaskan kaos tim yang akan dipakai oleh angkatan.

Ternayata saudara-saudara, berbicara di depan umum itu tidaklah sesuatu yang mudah, harus banyak berlatih, butuh jam terbang yang cukup tinggi. Bersyukurlah saya saat itu mendapat kesempatan untuk bisa berbicara di depan umum, khususnya para dosen dari seluruh Indonesia, karena peserta diklat adalah Cpns dosen dan tenaga kependidikan seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, gimana saya tidak minder? ketika pertama kali harus berbicara di depan umum soal pembuatan kaos tim. Ternyata, dalam hal ini yang dibutuhkan salah satunya adalah faktor Kenekatan, Setelah saya cek di KBBI kata "nekat" itu pakai huruf T bukan D, kata "kenekatan" berarti perbuatan nekat, Nekat sendiri memiliki empat komponen makna sebagai berikut:

(1) berkeras hati, dengan keras atau kuat kemauan
(2) terlalu berani (tidak berpikir panjang lagi)
(3) tidak mempedulikan apa-apa lagi
(4) tetap tidak mau mengalah, bersikeras, mengotot

dari komponen makna kata nekat di atas, saya sama sekali tidak mengajak untuk membudayakan budaya nekat ini kepada para pembaca blog, yg saya harapkan adalah, ketika kita dituntut seseorang untuk berbicara di depan umum, dimana kita masih malu-malu bahkan takut dg hal tersebut maka selayaknya kita perlu memanfaatkan komponen makna yang pertama dari kata Nekat yaitu Berkeras hati, dengan keras atau kuat kemauan, maka malu-malu itu akan pudar karena kuatnya kemauan. Selain itu komponen makna kedua (tidak berpikir panjang lagi) juga cukup ampuh untuk memberangus rasa takut kepada apa yang akan kita lakukan. dan komponen makna ketiga menyadarkan kita bahwa ketika kita berbicara di depan umum, anggaplah diri anda sendiri sedang berbicara, tidak mempedulikan apa apa lagi, terakhir bersikeraslah bahwa apa yang anda lakukan adalah benar, ketika anda benar, kenapa harus takut?
Dengan melihat komponen makna kata Nekat dalam KBBI, apa yang saya ingat ini adalah sebuah kenekatan yang menjadi tulisan sederhana dalam blog ini, Salam Nekat kawan-kawan semua.

Surakarta, 17 Maret 2015 :)

2 Menit Kemudian ... tiiiit ... tiiit .....

Bagi saya liburan itu adalah pisang goreng, entah mengapa diksi pisang goreng serasa tepat untuk menggambarkan apa makna dari liburan. Dalam ilmu bahasa, setiap satuan bahasa pasti tersusun dari dua lapis, lapis luar dan lapis dalam. Lapis luar identik dengan tataran gramatika dan lapis dalam condong kepada makna. Pisang goreng pun demikian, lapis luar pisang goreng yang begitu gurih dengan balutan tepung (agar tidak “bocor” kali ya hehehe) serasa nikmat dimakan pertama kali, saya selalu makan pisang goreng dengan cara memakan kulitnya dulu, pelan-pelan saya nikmati kulitnya yang masih hangat itu, baru kemudian masuk kepada buah pisangnya, saat itulah aroma pisang bercampur minyak goreng melebur menjadi satu dalam rasa, aduhai nikmatnya, inilah yang saya sebut sebagai “the real pisang goreng”. Semakin nikmat, ketika masih panas, sambil meniup-niup asap yang masih mengepul dalam belahan pisang goreng itu pun, sensasi makan pisang goreng akan didapatkan. 

2 menit kemudian setelah saya menyelesaikan makan pisang goreng, saya menyadari bahwa ternyata saat ini sudah tiba masa liburan (bagi saya pribadi tidak untuk yang lainnya hehe). Kata “libur” dalam kamus besar bahasa Indonesia, diartikan secara leksikal sebagai “bebas dari masuk sekolah dan kerja”. Hm apakah memang demikian? Apakah libur hanya untuk orang yang sekolah dan yang kerja? 2 menit kemudian, saya mencoba melihat kamus Sage, bagaimana kamus tersebut mengartikan kata ‘libur’ (holiday), pilihan kata yang diambil untuk mengartikan kata ‘libur’ dalam Sage adalah ‘leisure time’, yang berarti waktu luang. Secara lengkap kata ‘holiday’ diartikan dengan ‘a leisure time away from work devoted to rest or pleasure’. Dalam bahasa Arab, kata ‘libur’ sering disebut dengan ‘uthlah (عطلة), secara morfologis, kata tersebut berasal dari verba ‘a-tha-la (عطل) yang diartikan dengan ‘to break down’ atau ‘to leave without work’. Liburan, holiday, dan ‘uthlah, ketiganya memiliki kesamaan dari sisi ‘lepas dari pekerjaan’, yang membedakan adalah penekanan makna kata libur dalam KBBI berarti ‘bebas’, kata holiday berarti ‘leisure time’ – waktu luang, kata ‘uthlah dan ‘athala yang berarti meninggalkan pekerjaan.

Ah terlalu teoritis.. hehe bagaimana kalau liburan kita sebut saja sebagai pisang goreng ?? nikmat bukan ?? kita tinggalkan dulu semua teori di atas, kita tinggalkan dulu segala ikatan, kita lepas dulu semua keformalan yang ada, kita sikat dulu semua aturan, kita bebaskan dulu diri kita dalam waktu luang (leisure time) sambil makan pisang goreng hangat, dengan ditemani secangkir kopi atau teh panas, liburan (baca: pisang goreng) akan lebih manknyuus, 2 menit kemudian, ternyata saya sudah menghabiskan satu pisang goreng dan melupakan semua teori yang ada..

Selamat Berlibur, fa idza faraghta fanshab !!  

Malang, 25 Juni 2014

Jika Agama hanya Menjadi Simbol

Akhir-akhir ini, isu terorisme menjadi isu yang paling hangat di masyarakat. Terorisme sebagai momok yang menakutkan telah memakan banyak korban, baik secara materi maupun perasaan. Peledakan bom di beberapa tempat merupakan salah satu bentuk dari terorisme. Dan yang menjadi fenomena menarik adalah ketika tindakan tersebut dikaitkan dengan pemahaman keagamaan seseorang maupun kelompok. Pemahaman tersebut laksana pemantik api yang cukup kuat sehingga dapat membakar pikiran pelaku tindakan terorisme dengan menjadikan agama sebagai hujjah/alasan tunggal dan utama sebagai landasan perilakunya. Secara tidak langsung namun pasti hal ini telah merusak citra agama yang sejatinya lahir sebagai pembawa kedamaian di muka bumi. Agama tidak lagi menjadi santun, tepo sliro, dan menyejukkan hati ketika ia telah menjadi alasan untuk melakukan pengrusakan. Norma dan nilai dari sebuah agama akan hilang dan si pelaku bisa jadi merupakan orang yang tidak beragama lagi karena ia melupakan esensi dasar dari agama.

Pemahaman esensi dan substansi dari agama itulah yang sekarang menjadi sesuatu yang langka. Agama hanya dipahami sebagai sebuah simbol yang selalu diagung-agungkan. Agama diartikan sebagai sesuatu yang serba putih saja. Bahkan agama dianggap sebagai ajaran moral yang harus membunuh lawan-lawan yang berlainan agama dengan janji-janji manis kehidupan surga. Ajaran agama yang sering digunakan dalih untuk melakukan pengrusakan dan tindakan terorisme adalah ajaran “jihad” yang difahami secara harfiah tidak menyeluruh sampai kepada tataran makna. Jihad hanya sebatas pergulatan fisik di medan perang dengan membawa pedang. Padahal makna jihad sesungguhnya adalah usaha keras untuk mengalahkan nafsu yang selalu membawa manusia kepada perbuatan yang dilarang oleh agama. Apabila manusia sudah dapat menguasai nafsunya maka hati nuraninya akan selalu membimbing kepada kebaikan.


Agama hanya difahami dari bentuk luarnya namun nilai-nilai inti yang tersembunyi dari pesan agama tidak difahami dengan baik. Hal inilah yang menyebabkan seseorang pemeluk agama memberanikan diri untuk melakukan perilaku keji dengan dalih sebuah ajaran agama tertentu. Ia tidak menemukan hakikat kasih sayang dari ajaran agamanya. Padahal inti dari ajaran agama adalah bagaimana agar pemeluknya memandang setiap orang dengan pandangan penuh rasa kasih dan sayang. Sehingga kelak kehidupan yang harmoni bukanlah sebuah utopia belaka. 


Surakarta, 17 Maret 2015 - lagi senggang di kantor - memikirkan seseorang nan jauuh di sana :)



Siapa dia? Dia Perempuan ...

Perempuan adalah sedaging makhluq yang cukup lembut namun tak mudah untuk menjadikannya lembut seperti yang kita inginkan. Ia cantik, indah, dan gemulai. Ia membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Perempuan bukanlah semacam perhiasan yang indah sesaat, dibuang selamanya, namun ia adalah perhiasan abadi yang selalu melengkapi ke-macho-an, kejantanan, ketegasan, dan keperkasaan pria. Hanya pria-pria bodoh yang tidak mau dengan wanita, dan hanya pria-pria palsu yang berani menduakan hati dan kasihnya kepada perempuan-perempuan. Perempuan itu tangguh. Ia laksana matahari yang menyinari orang-orang yang ia sayang..aku merasakan hal itu, meski kadang aku jengkel dengan manjanya, nakalny, godaannya, cemburunya, namun lama-lama aku sadar ia tak sekedar indah namun tak tergantikan jika ia sudah masuk mata lalu turun ke hatiku..Perempuan di mataku turun ke hatiku..

Maka engkaulah perempuan itu, yang tercipta dari tulang rusukku

yang tempatnya paling dekat dengan jantung dan dekapku
yang wajib kusayangi sekaligus kulindungi,
yang diizinkan tuhan menemaniku sepanjang perjalanan
menuju rumah kebahagiaan yang siang-malam kita impikan

Perempuan ku,,,, demikianlah aku mencintaimu
seperti kemarin, seperti hari ini, seperti kapan saja di masa depan
hingga nafas tak lagi bertahan dan waktu tak berkenan


Surakarta, 17 maret 2015