Senin, 20 Februari 2012

Galau Bangsaku Galau Bahasaku

setelah saya cek di KBBI terbitan balai Pustaka, kata "galau" atau "bergalau" berarti sibuk beramai-ramai; sangat ramai; berkacau (tak keruan); misal: di sana-sini terdengar bisik desus galau; galau pikiran dan pendapatnya, berkacau tak keruan; galau anak-anak di depan sekolah, beramai-ramai.


Headline tempo hari ini adalah "Galau Jenderal karena Shinta" dalam berita tersebut ditulis Keluarga para jenderal itu benar-benar galau. Mereka ada yang bicaranya terbata-bata, ada yang marah-marah bahkan ada yang menangis saat meminta sang perwira buka mulut perihal jenderal yang dimaksud Shinta. Kata galau dalam kalimat tersebut benar-benar telah menjelaskan betapa kacaunya, betapa ramainya, keadaan keluarga sang jenderal karena shinta.


Bahasa sebagai bagian dari sebuah budaya yang terus berkembang memunculkan kata "Galau" di tengah-tengah masyarakat Indonesia di milenium 2012. sebelumnya kata tersebut jarang terdengar di masyarakat, Namun akhir2 ini kata tersebut mulai menunjukkan eksistensinya. entah sampai kapan kata Galau akan terus bertahan, semoga ini bukan pertanda kalau bangsa ini memang sedang dilanda kegalauan yang sangat...Wa'Allahu A'lam

Minggu, 19 Februari 2012

Nil River: A Journey in The Ramadhan Night

Mungkin inilah malam terindah dalam hidupku, saat dimana aku bisa menatap langsung sungai yang menjadi kebanggaan dunia sebagai sungai terpanjang. Decak kagum dan takjub menggema dalam diriku. Aku hanya bisa bersyukur dengan nikmat ini, ternyata aku masih diberi kesempatan untuk menyeberangi benua Afrika yang selama ini aku anggap sebagai benua paling hitam di dunia. Sungai nil merupakan sungai terindah yang pernah aku lihat. Keindahan panoramanya di malam hari cukup menawan. Pantulan cahaya lampu di sekitar sungai tersebut menambah anggun panoramanya. Muda-mudi kota Kairo berjalan berduaan di pinggiran trotoar sungai tersebut. Asap rokok para lelaki yang sedang memancing di sungai tersebut mengepul bak kereta api tempo dulu. Hiruk pikuk malam di jembatan sungai nil dipenuhi oleh mobil-mobil yang rata-rata berbentuk sedan. Aku terkesan dengan pemandangan dan suasana ini.

Malam itu kebetulan adalah malam di bulan Ramadhan. Ada acara pentas seni yang sedang diselenggarakan oleh para mahasiswa Indonesia di Mesir. Detik demi detik aku lalui, tiba-tiba sejenak aku merasa jenuh dengan acara mahasiswa Indonesia di gedung Opera, semacam gedung kesenian di Mesir. Maka aku putuskan untuk jalan-jalan sendiri saja, mumpung di luar negeri aku tidak mau terjebak dalam kejenuhan. Akhirnya aku keluar dari area tersebut, melintasi taman-taman di sekitar gedung Opera. Setelah sampai luar gedung, aku selalu mampir ke tempat favorit ku di Mesir, BAQOLAH, semacam kios yang menjual minuman dan makanan-makanan kecil. Bak musafir yang berada di tengah gurun pasir tandus aku menghampiri tempat tersebut. Aku selalu menghabiskan uang Pounds (LE) ku disana untuk sekedar membeli minuman dingin atau cemilan. Cemilan semacam roti manis kecil namanya Molto. Aku senang sekali dengan legitnya roti tersebut. Harganya sekitar 1 atau 2 LE. Aku beli minuman dingin rasa buah dulu plus air mineral botol merk Dasani, karena malam bulan puasa bawaannya haus dan huaauus (sebagai bentuk ta'kid dari keadaaan tsb hehehe). Lalu aku berjalan menyusuri jalan di sekitar area tersebut. Jalan yang ramai memecah hitam kelamnya malam. Tanpa kusadari setelah aku jalan beberapa meter dari Opera aku menemukan sungai Nil, sungai yang selama ini aku hanya tahu dari pelajaran buku-buku berbahasa Arab sebagai athwalu nahrin fil alam (sungai terpanjang di dunia).  

Sungai Nil (bahasa Arab: النيل an-nīl atau bahasa Mesir/Koptik iteru ), di Afrika, adalah satu dari dua sungai terpanjang di Bumi. Sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km atau 4.132 mil dan membelah tak kurang dari sembilan negara yaitu : Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, dan tentu saja Mesir. Karena sungai Nil mempunyai sama artinya dalan sejarah bangsa Mesir (terutama Mesir kuno) maka sungai Nil identik dengan Mesir. Sungai Nil mempunyai peranan sangat penting dalam peradaban, kehidupan dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satu sumbangan dari sungai Nil adalah kemampuannya dalam menghasilkan tanah subur sebagai hasil sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungainya. Tanah yang subur ini memungkinkan penduduk Mesir mengembangkan pertanian dan peradaban sejak ribuan tahun yang lalu. Setelah beberapa bulan aku tinggal di Mesir akhirnya aku sadar bahwa ada sebuah mitos di sungai nil yang indah ini. Mitos yang saya fahami adalah sebuah cerita tentang asal-usul semesta alam atau suatu bangsa yang mengandung hal-hal yang ajaib. Lalu apa cerita ajaib yang ada di sungai ini? Ternyata mitos menyatakan bahwa barang siapa yang berhasil minum air di sungai nil maka ia akan dijanjikan oleh mitos ini untuk kembali ke Mesir untuk yang kesekian kalinya. Pembaca boleh percaya boleh tidak dengan mitos ini, namun yang perlu diingat kebenaran dari mitos ini sifatnya adalah personal. Jadi mitos ini memang muncul setelah beberapa individu melakukan hal tersebut dan ternyata janji untuk kembali ke negeri 1000 parabola ini memang benar-benar terjadi. Mengenai teknis bagaimana cara minum air sungai tersebut kiranya tidak perlu kita bahas dalam forum ini. Yang jelas kita perlu dan harus mengetahui mitos-mitos negara lain walaupun kita sebenarnya masih berada di negara kita sendiri. Kita tetap harus berani Open Minded dan selalu Think Globally and Act Locally.. Mungkin seperti itu,,cerita tentang sungai ini kita akhiri saja dengan doa kafaratul majlisul kitabati blog :) indaaaah terimakasih Bijaksana!

Jumat, 17 Februari 2012

Sajama Cut: Lirik Less Afraid

Less Afraid-Sajama Cut (lyrics)
It was the skies It was her scent And her life You could watch me of fall down I guess it’s been A little while since I’ve slept
But I’ve dreamt you going down Mistakes are made from the moment we met Mistakes are made to last Mistakes are met but are never acquired Pastiches, La mere, pisstakes are made Outside, outside, I know you can be anyone you want Outside, outside, I know you can be with anyone you’d want We all wore black And screamed out from your darkened shed “These ladies aren’t here to serve you” Your silent moans “A sacrament without a toast” We’ve all seen me going down to your ground Stabs are made of turbulent lies Stabs are made in pasts Stabs are often as words forgotten Your stabs are fate- stabs are made I’ve never meant it the way it came out Ghosts of sleepless streets The dead of night, the death of silence This room, it hasn’t been any quieter (each night takes flight) I’d love for you to have loved me Shipped are the sails of seas The words of those, the dead, the silenced This room it shouldn’t be any quieter Outside, outside I know you can be anyone you want Outside, outside I know you can be anyone you want Outside, outside I know you can be anyone you want Outside, outside I know you can be anyone you want


NOte: akhir akhir ini lagi asyik dengerin band-band yang aneh-aneh. Sebut saja aneh karena mungkin mereka tidak setenar ayu ting ting, ungu, atau cherlybell hehe bosan dengan semua musik tersebut aku menemukan band indie ini lumayan bagus lagunya, dan seru abis. Let's enjoy it..sebelumnya bagaimana kalau kita analisis dulu lirik dari lagu Less Afraid tersebut:
Less afraid mungkin saya artikan "sedikit kekhawatiran atau ketakutan"


"itu merupakan langit-langit.."
"itu merupakan wewangiannya dan itu merupakan kehidupannya"
"kamu dapat melihat aku jatuh..aku menebak hal itu hanya sebentar saja sejak aku tertidur.."

"namun aku telah bermimpi kamu sedang jatuh" 
"kesalahan-kesalahan yang telah dibuat sejenak lalu, kita bertemu dengan kesalahan2 terakhir"
"kesalahan2 yang kita temui tidak pernah kita peroleh"

Kamis, 16 Februari 2012

Aku dan Mesir

Love Giza
Dalam rangka melaksanakan program perguruan tinggi menuju universitas bertaraf internasional (World Class University) sesuai dengan kebijakan yang tertuang dalam Renstra Kemendiknas, UGM kembali mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk belajar ke luar negeri, yaitu di Universitas Canal Suez Ismailia, Mesir. Hal ini merupakan sebuah program beasiswa unggulan subsidi luar negeri Program Studi Agama dan Lintas Budaya (S1/S2/S3) Konsentrasi Kajian Timur Tengah (Bahasa/Linguistik, Sastra, dan Budaya Arab) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Banyak sekali pengalaman yang didapatkan di Mesir selama mengikuti program beasiswa tersebut khususnya dalam belajar bahasa dan kebudayaan masyarakat Mesir pada umumnya dan masyarakat kota Kairo dan Ismailiyyah pada khususnya. Penulis menyadari bahwa unsur budaya yang berupa bahasa dan sastra harus dipelajari langsung dari penutur aslinya. Beasiswa ini memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada penulis untuk mengaplikasikan hal tersebut. Penulis belajar bagaimana ujaran-ujaran dalam bahasa Arab dialek Mesir diucapkan di pasar, di masjid, di kantor dan tempat-tempat lainnya.

Khazanah kebudayaan Mesir dan peninggalan sejarahnya yang cukup eksotis dapat dipelajari oleh diri penulis selama belajar di sana, seperti keagungan monumen dan piramida Giza, keindahan sungai Nil, keunikan gedung kesenian Opera, kekudusan masjid-masjid dan gereja bersejarah, kemewahan perpusatakaan Alexandria, hiruk pikuk universitas Al-Azhar dan lain sebagainya. Selain itu juga ada fenomena pasar mobil, yang selalu memadati jalan-jalan di sekitar distrik hai asyir pada hari Jum’at dan Minggu, menjadi pemandangan yang asing dan unik bagi diri penulis. Sambil menikmati berbagai macam varian kuliner yang ada di Mesir, seperti tho’miyyah bil beit, kacang ful, qusyari, jus buah, teh khas mesir yang selalu dicampuri dengan mint, maka dari sanalah penulis belajar akan kebudayaan masyarakat setempat yang memang sangat berbeda sekali dengan kebudayaan penulis. Akses yang mudah dirasakan oleh penulis dalam melakukan pengembangan literatur buku-buku dan karya tulis ilmiah berbahasa Arab khususnya yang sesuai dengan minat penulis yaitu: Linguistik Arab. Buku-buku tersebut bertebaran di seluruh pelosok kota Kairo khususnya, perpustakaan di Ismailiyyah, dan beberapa pameran buku di Alexandria. Dengan mengikuti program beasiswa tersebut akhirnya penulis dapat melakukan penelitian mengenai bahasa jurnalisme yang ada di Mesir. Bagaimana hubungan antara bahasa dan konteks sosial masyarakat yang ada di sana. Begitu pula penulis menyadari bahwa fenomena bahasa amiyyah merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dibantah lagi. Terdapat bias yang cukup signifikan terhadap bahasa fusha yang selama ini penulis pelajari. Sehingga perlahan-lahan namun pasti penulis mulai belajar sedikit demi sedikit bahasa amiyyah Mesir beserta budaya mereka.


depan Tauhid wan Nur distrik Hai Ashir

Kesan kekeluargaan yang hangat dirasakan oleh diri penulis selama penulis berada di Mesir. Baik itu kekeluargaan sebagai sesama bangsa sendiri, yaitu interaksi penulis dengan rekan-rekan mahasiswa Indonesia dan seluruh jajaran staff KBRI. Maupun kekeluargaan yang penulis rasakan selama berhubungan dengan masyarakat Mesir, khususnya rekan-rekan kuliah, para dosen, dan pembimbing asrama. Satu hal yang pasti kekeluargaan itu begitu erat dan kokoh sehingga berat hati ini ketika harus meninggalkan tanah para nabi. Bagi diri penulis, Mesir bukan hanya negeri 1000 menara atau negeri 1000 parabola namun Mesir merupakan negeri 1000 pintu untuk memasuki khasanah keilmuan agama Islam dan Bahasa Arab. Negara Arab Saudi sendiri sebagai negeri tempat lahir agama Islam dan negeri dimana bahasa Arab tumbuh dan berkembang tidak memiliki ahli ilmu bahasa Arab khususnya Linguistik Arab seperti yang dimiliki Mesir, sebut saja tokoh seperti Tammam Hasan, Syauqi Dhaif, Naguib Mahfudz, Thaha Husain, Bintu Syathi’, mereka semuanya adalah para ahli bahasa dan sastra Arab yang berada di Mesir. Kedepannya beasiswa ini harus terus diupayakan dan diberdayakan dengan perencanaan yang tepat guna agar mutu pendidikan dan pengembangan potensi sumber daya manusia guna melahirkan insan terbaik bangsa yang memiliki pemahaman kebangsaan secara komprehensif, integritas dan kredibilitas tinggi, berkepribadian unggul, moderat, serta peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara. Senada dengan kepribadian kampus UGM yaitu think globally and act locally, bagaimana kita bisa mewujudkan generasi bangsa yang selalu berfikiran global namun tetap santun dengan kearifan lokal yang ada. Semoga bermanfaat. Yunus Anis - 26 Januari 2012. 

Program Beasiswa Unggulan dan Sandwich Luar Negeri untuk Kajian Timur Tengah UGM 2011

Dalam rangka melaksanakan program perguruan tinggi menuju universitas bertaraf internasional (World Class University) sesuai dengan kebijakan yang tertuang dalam Renstra Kemendiknas, UGM kembali mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk belajar ke luar negeri, yaitu di Universitas Canal Suez Ismailia, Mesir. Hal ini merupakan sebuah program beasiswa unggulan subsidi luar negeri Program Studi Agama dan Lintas Budaya (S1/S2/S3) Konsentrasi Kajian Timur Tengah (Bahasa/Linguistik, Sastra, dan Budaya Arab) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Beasiswa Unggulan ini diperoleh dari Biro Kerjasama Luar Negeri Kemendiknas sebagai realisasi MOU Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang disebut dengan “Beasiswa Unggulan Program Rintisan Double Degree 2011”.

Tujuan dari beasiswa ini untuk meningkatkan mutu pendidikan dan pengembangan potensi sumber daya manusia guna melahirkan insan terbaik bangsa yang memiliki pemahaman kebangsaan secara komprehensif, integritas dan kredibilitas tinggi, berkepribadian unggul, moderat, serta peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara. UGM mengirim mahasiswa berprestasi dari jenjang S1, S2, dan S3 Program Studi Sastra Arab dan Agama dan Lintas Budaya Konsentrasi Kajian Timur Tengah Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada untuk belajar ke luar negeri jenjang S2 dan S3 Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Arab pada Faculty of Arts and Humanities of Canal Suez University, Ismailia, Egypt. Jangka waktu pendidikan pada beasiswa ini dilaksanakan selama 6 (enam) bulan di Universitas Terusan Suez, Ismailia Mesir. Adapun nama-nama mahasiswa yang dikirim dalam program beasiswa ini adalah Muhammad Yunus Anis (S2 Kajian Timur Tengah UGM Konsentari Linguistik Arab), Tri Yanti Nurul Hidayati (S2 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Linguistik Arab), Naufal Ahmad Rijalul Alam (S2 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Budaya Arab), Sri Dewi Nur Atiqah (S2 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Sastra Arab), Eva Farhah (S3 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Sastra), dan Abu Sufyan (S3 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Linguistik), ditambah dengan Wahyudi (S3 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Linguistik) yang mendapatkan beasiswa Sandwich S3 Dirjen DIKTI ke Canal Suez University di Ismailia Mesir selama 4 (empat) bulan. Selain itu juga ada Yoyo, S.S., M.A (S3 Kajian Timur Tengah UGM Konsentrasi Budaya) yang mendapatkan beasiswa Sandwich-Like yang merupakan program dari DIKTI. Beasiswa tersebut ditujukan untuk studi di King’s College London, University of London, Inggris, selama 4(empat) bulan pada pertengahan Agustus sampai dengan awal Desember tahun 2011.


Dalam rombongan ini disertakan pula mahasiswa dari S1 UGM dan UNS, yaitu Ahmad Jazuli (S1 Sastra Arab UGM) dan Fita Nafisa (S1 Sastra Arab UNS). Tepat pada hari/tanggal Jum’at 28 Juli 2011, para peserta beasiswa tersebut bersama-sama dengan Pengelola dan Ketua Prodi Agama dan Lintas Budaya Minat Kajian Timur Tengah, Prof. Dr. Syamsul Hadi, S.U., M.A pamit dan memohon doa restu kepada Bapak Direktur Pimpinan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Dr. Hartono, DEA., DESS sebelum berangkat ke Mesir pada hari/tanggal Kamis, 4 Agustus 2011. Harapan dari bapak Pimpinan Sekolah Pascasarjana UGM agar para peserta beasiswa ini tetap semangat dalam belajar dan terus menjaga nikmat kesehatan yang telah diberikan oleh Allah SWT dalam proses studi di luar negeri. Begitu pula agar selalu memantabkan “niat” belajar sungguh-sungguh karena kesuksesan berawal dari niat yang baik.  

Selasa, 14 Februari 2012

Apa yang Salah dengan Irak?


Apa yang Salah dengan Irak?
Oleh:
Muhammad Yunus Anis*

Dalam filsafat telah lama diterima ajaran tentang satu-satunya hukum tetap yang berlaku dalam kehidupan ini adalah tidak adanya “ketetapan” itu sendiri. Ajaran inilah yang mungkin cukup nyata terealisasikan dalam sebuah kawasan yang selama ini kita sebut sebagai “Timur Tengah”. Perubahan sebagai wujud dari tidak adanya ketetapan telah menjadi sebuah harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. Sebuah iklim perubahan, dengan segala macam manifestasinya dalam setiap aspek kehidupan dan segenap akibat bagi konstelasi percaturan politik dunia, terlihat nyata di kawasan ini, mulai dari konflik tanpa henti, upaya penegakan demokrasi, dan upaya integrasi yang seakan-akan hanya menjadi sebuah fiksi atau cerita rekaan belaka. Hal ini semakin nyata terlihat dalam upaya integrasi di kawasan Irak baik secara horizontal maupun vertikal. Apalagi setelah ditambah dengan problematika tidak akurnya Irak dengan negara-negara yang ada di sekitarnya, semakin membuat kita bertanya: sebenarnya apa yang salah dengan Irak?
Manifestasi dari tema pergolakan yang berlangsung secara menetap di negeri 1001 malam ini dapat dilihat dari beberapa kenyataan berikut: (1) fungsi kawasan Irak dalam konteks kekinian sebagai wadah konflik antara superpowers, (2) sebagai wadah konflik ideologis dan teologis antara umat beragama, (3) sebagai wadah konflik antara suku/etnik, dan (4) sebagai wadah ketegangan antara Irak sendiri dengan negara tetangga. Berangkat dari empat hal tersebut, makalah ini akan mengurai secara singkat, padat, dan tepat guna apa yang sebenarnya melatarbelakangi konflik Irak dengan negara-negara tetangga, pertama dari sisi historis, kedua dari sisi geografis, ketiga dari sisi politis, dan keempat dari sisi ekonomi.
Latar Belakang Historis
Secara historis, konflik berkepanjangan antara Irak dengan negara-negara tetangga, dalam hal ini negara Iran dan Kuwait, bersumber dari fanatisme etnis dan klaim kebenaran dalam hal teologis. Fanatisme etnis ini terlihat dari saling merasa unggul antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Akar dari masalah ini sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia (terletak di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia atau negara Iran modern. Sumber sejarah menyatakan bahwa pada tahun 638, Mesopotamia yang sekarang dikenal dengan negara Irak diduduki dan diambilalih dari kekaisaran Sasanian Persia oleh bangsa Arab dari Jazirah Arab dan rakyat di wilayah itu dijadikan beragama Islam. Wilayah Mesopotamia ini telah menjadi medan peperangan dan perebutan kekuasaan silih berganti selama tiga ratus tahun antara Kesultanan Ottoman yang Sunni dan Kekaisaran Safavid dari Persia yang berhaluan Syi’ah.
Adapun klaim kebenaran absolut dalam hal teologis ini terlihat dari Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi Islam di Iran. Ia memang memiliki impian untuk menyebarkan pengaruh revolusinya ke negara-negara Arab lainnya. Pertengahan tahun 1980, Khomeini menyebut bahwa pemerintahan sekuler Irak adalah pemerintahan "boneka setan" & masyarakat muslim di Irak sebaiknya bersatu untuk mewujudkan revolusi Islam seperti di Iran. Pernyataan Khomeini tersebut sekaligus sebagai respon dari pernyataan Saddam pasca revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa secara historis bangsa Persia (Iran) tidak akan berhasil membalas dendam kepada bangsa Arab sejak Pertempuran al-Qadisiyyah, pertempuran pada abad ke-7 yang dimenangkan oleh bangsa Arab sekaligus menumbangkan Kerajaan Persia kuno.
Latar Belakang Geografis
Untuk menjaga kekuasaannya, Saddam harus menjaga integritas bangsa dan negara. Salah satu cara adalah menghadapi pemberontakan suku Kurdi yang secara geografis terletak di wilayah Irak Utara dan permasalahan Kaum Syia’ah yang berada di wilayah Irak Selatan. Gangguan terhadap integrasi Irak ini akan selalu terjadi dari pemberontakan suku Kurdi yang secara langsung didukung oleh Iran dan Israel untuk mencapai kemerdekaannya. Begitu pula kaum Syi’ah Irak yang selalu mendapatkan dukungan penuh dari Iran sebagai negara Islam Syia’ah. Untuk itulah, Irak harus menjaga kesatuan bangsa dan negaranya agar tidak diintervensi oleh negara lain.
Sumber konflik utama di kawasan Timur Tengah juga bermula dari masalah politik air (hidropolitik). Secara garis besar masalah air laut terdiri dari masalah terbatasnya akses air laut yang dimiliki oleh beberapa negara Timur Tengah seperti Irak dan Yordania, masalah perbatasan, dan masalah potensi kekayaan air laut seperti, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang diperoleh karena memiliki laut. Mengingat pentingnya  air laut bagi superioritas militer, pengangkutan eksport minyak dari negara-negara Timur Tengah, dan sebagai pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut maka perbedaan kondisi air laut tidak jarang menimbulkan konflik.
Ada Negara yang memiliki pantai yang amat panjang dan terdiri dari lebih dari satu Laut/Samudra seperti Arab Saudi yang memiliki Laut Merah, dan Laut Arabia, Turki memiliki Laut Mati dan Laut Aegean, Israel dan Mesir memiliki Laut Mediterranean dan Laut Merah, serta Moroko yang memiliki Laut Tengah dan Samudra Atlantik, atau Uni Emirat Arab dan Oman yang memiliki Laut Arab dan Samudra India. Sementara itu, ada Negara yang dapat dikatakan sama sekali tidak memiliki pantai yaitu Yordania, atau memiliki tetapi sangat terbatas seperti Irak dan suriah. Padahal untuk meningkatkan perekonomiannya dan memperkuat Angkatan Lautnya, Irak membutuhkan akses yang cukup luas ke laut lepas. Panjang pantai yang dikuasai Irak di wilayah Basrah sangat tidak memungkinkan Irak mempunyai akses yang baik ke laut. Itulah sebabnya Irak meminta kepada Kuwait untuk memberikan akses ke laut pada Irak. Namun Kuwait tidak mau memberikan. Hal itulah yang juga menjadi penyebab kenapa Irak selalu mengalami konflik dengan negara-negara yang ada di dekatnya.
Sedangkan masalah air tawar meliput: masalah air bersih, untuk keperluan sehari-hari, irigasi guna pengembangan dan pertanian, dan untuk pembangkit tenaga listrik, serta masalah perbatasan. Sumber air tawar terdiri dari air permukaan seperti sungai dan danau yang merupakan renewable resources, dan air tanah (ground water) yang merupakan unrenewable resources. Setiap permasalahan air tersebut diatas mempunyai potensi konflik cukup tinggi, dan beberapa diantaranya telah menjadi konflik terbuka seperti perang Irak-Iran yang disebabkan oleh perbatasan air di Shatt-al Arab, intervensi Irak ke Kuwait yang salah satu alasannya adalah yaitu terbatasnya akses air laut yang dimiliki Irak.
Shatt al-Arab adalah sungai sepanjang 200 km yang terbentuk dari pertemuan Sungai Efrat & Tigris di kota Al-Qurnah, Irak selatan, di mana bagian akhir dari sungai yang mengarah ke Teluk Persia tersebut terletak di perbatasan Irak & Iran. Sungai tersebut utamanya penting bagi Irak karena merupakan satu-satunya jalan keluar negara tersebut ke laut. Karena letaknya yang berada di perbatasan & posisi strategisnya yang mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut menjadi bahan sengketa Irak & Iran. Sebelum perang antara kedua meletus, sejak tahun 1975 sungai tersebut menjadi milik kedua negara di mana batasnya adalah pada titik terendah sungai berdasarkan Persetujuan Aljier (Algier Accord).
Wilayah lain yang menjadi sengketa kedua negara adalah provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Wilayah tersebut selama ini menjadi wilayah Iran, namun sejak tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di tanah Irak & wilayah tersebut diserahkan ke Iran ketika Irak dijajah oleh Inggris.
Sengketa perbatasan antara Irak dengan Kuwait juga bermula dari keadaan geografis perebutan pulau. Hal ini dilatarbelakangi oleh ambisi Saddam Husein ketika Irak mapan dalam bidang perekonomian dan cukup kuat dari sisi persenjataannya. Bahkan Irak sempat menjadi salah satu negara yang memiliki persenjataan tercanggih di Timur Tengah setelah Israel. Pada tahun 1970, konflik antara Irak dan Kuwait terjadi dalam memperebutkan dua pulau, yaitu Warbah dan Bubiyan yang berada di Teluk Persia. Konflik tersebut berkahir dengan pendudukan tentara Irak atas dua pulau tersebut.
Selain itu, pada era tahun 1970an sengketa perbatasan dengan Kuwait masih saja sering terjadi. Kuwait menolak untuk memberikan izin kepada Irak untuk membangun pelabuhan di Delta Shatt Al-Arab. Penolakan ini memperkuat keyakinan Irak bahwa kekuatan konservatif di wilayah Teluk berusaha untuk mengontrol Teluk Persia. Pendudukan Iran atas beberapa pulau di Selat Hormus menambah kekhawatiran Irak terhadap Iran. Sengketa perbatasan Irak dengan Iran tidak dapat dihindari, namun untuk sementara dapat diredam dengan ditandatanganinya Perjanjian Al-Jazair pada 6 Maret 1975.
Latar Belakang Politis
Selain berdasar pada latar belakang historis dan geografis di atas, konflik Irak dengan negara-negara lain juga dilatarbelakangi oleh latar belakang politis. Dalam hal ini ada campur tangan pihak asing yang berkepentingan besar di wilayah tersebut. Alih-alih sebagai penegak demokrasi, pihak asing sebenarnya ingin menguasai tambang minyak di wilayah Irak. Kita ambil contoh sengketa Irak-Iran yang baru beberapa tahun ini saja dapat disudahi. Menurut Abdurrahman Wahid di dalam Jurnal Prisma, selain bersumber pada kedengkian historis antara watak xenophobis (antipati pada orang asing) dari ideologi Pan-Arabisme-nya Partai Ba’ath di Irak dan kosmoplitanisme kaum ningrat yang memerintah Iran, juga mencerminkan perbatasan konfrontasi (frontier of encounter) pengaruh Rusia melawan pengaruh Amerika Serikat di wilayah “bulan sabit subur” (the fertile cresent) yang sangat vital bagi strategi hegemoni masing-masing superpowers.
Sebagaimana Eropa Tengah merupakan perbatasan konfrontasi antara pasukan-pasukan NATO dan Pakta Warsawa dan merupakan wilayah strategis pertama yang harus direbut dalam suatu konflik bersenjata, maka wilayah “bulan sabit subur” yang meliputi negara-negara Lebanon, Siria, Jordania, dan Irak merupakan kunci bagi penguasaan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan (bahkan di zaman dahulu merupakan pintu bagi penguasaan dunia, seperti tercermin dalam penaklukan dan penjarahan yang dilakukan oleh Iskandar Yang Agung dari Macedonia).
Oleh sebab itulah, Irak yang berada di wilayah “bulan sabit subur” cukup menarik perhatian superpowers untuk kepentingan politiknya. Ditambah dengan kepercayaan secara historis dan geografis yang menyatakan bahwa untuk menguasai wilayah Timur Tengah secara keseluruhan, maka wilayah yang harus dikuasai terlebih dahulu adalah wilayah “bulan sabit subur” khususnya adalah negara Irak. Adapun secara politis wilayah tersebut merupakan perbatasan konfrontasi yang sangat vital bagi strategi hegemoni masing-masing superpowers. Konflik ideologi dan teologi yang ada justru dimanfaatkan pihak asing untuk mempermulus langkah dalam menguasai wilayah Irak.
Ketika Konferensi Liga Arab diselenggarakan di Baghdad pada tahun 1989, Saddam Husein menggunakan kesempatan itu untuk menggalang kekuatan melawan yang menurutnya konspirasi internasional yaitu antara Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan negara-negara Teluk yang akan menghancurkan ekonomi Irak. Dengan demikian perang dapat dilancarkan melalui cara-cara ekonomi. Irak merasa dikhianati oleh Kuwait. Padahal selama itu, Irak perang melawan Iran disebutkan dengan istilah perang melawan Syi’ah untuk melindungi kaum Sunni yang mayoritas tinggal di Arab Saudi dan Kuwait. Irak juga melindungi Kuwait dari ancaman dan subversi kaum Syi’ah. Namun, dibalik itu semua, Kuwait malah membelot bersekutu dengan Arab Saudi, Amerika, dan Inggris untuk menghancurkan perekonomian Irak. Oleh sebab itulah konflik antara Irak dan Kuwait tidak dapat terelakkan.
Latar Belakang Ekonomi
Konflik yang terjadi antara Irak dan Kuwait, salah satunya adalah dilandasi oleh faktor ekonomi. Setelah Irak mengalami peperangan dengan Iran pada tahun 1980-1988, Irak terjebak ke dalam krisis ekonomi maha dahsyat. Pada tahun 1980, Irak memiliki cadangan devisa sebesar 30 Milyar US Dollar. Namun pada tahun 1988, Irak justru memiliki hutang luar negeri yang sangat besar, yaitu berkisar antara 100-120 Milyar US Dollar. Disamping itu, Irak membutuhkan biaya yang cukup besar dalam rekonstruksi infrastruktur yang telah hancur, seperti ladang minyak di Kirkuk, begitu pula pelabuhan dan kilang minyak di Basrah.
Keterpurukan ekonomi ini salah satunya disebabkan oleh diterapkannya Sistem Liberalisasi Ekonomi yang telah dimulai ketika perang dengan Iran. Pengendalian harga oleh pemerintah dihilangkan, kewiraswastaan lebih didorong, badan-badan usaha milik negara dijual kepada swasta. Perizinan diberikan pada proyek-proyek industri yang dimiliki oleh swasta, sektor swasta menguasai hampir seperempat ekspor komoditi yang dibutuhkan Irak dan mengundang investasi dari negara-negara tetangga Arab untuk menanamkan modalnya di Irak. Kegiatan ekonomi liberal itu memberikan kesempatan bagi orang-orang dekat kekuasaan untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Akibatnya timbuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang pada akhirnya menimbulkan dampak negatif perekonomian Irak.
Ketika Irak dalam masa keterpurukan ekonomi, Irak harus mulai mencari dukungan kepada Arab Saudi dan Kuwait. Namun di balik harapan baik Irak, kedua negara tersebut justru menolak tawaran Irak. Akhirnya Saddam Husein pada waktu itu mengancam dengan kekerasan, yaitu invasi Kuwait dengan berbagai macam cara (Iraq might use other means to extract them). Dalam hal ini sempat terbesit keinginan Saddam dengan kekuatan militernya untuk menjadi pemimpin dunia Arab.

Perlu diingat bahwa Irak sejatinya pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di masa pemerintahan Ahmad Hasan Al-Bakr. Hal ini dibuktikan dengan langkah Al-Bakr dalam memberikan porsi besar anggaran negara di sektor pertanian dan pembangunan industri. Padahal sebelumnya, hampir 90% anggaran negara dialokasikan untuk anggaran peperangan. Selanjutnya langkah briliant yang diambil oleh Al-Bakr adalah  menasionalisasi Perusahaan Minyak Irak setelah revolusi 1968 yang dilakuakan oleh Ahmad Hasan Al-Bakr sebagai presiden dan ketua Dewan Revolusi (the Revolutionary Command Council) pada masa itu.
*****
Sebagai penutup dari tulisan ini adalah sebuah refleksi dari pertanyaan “apa sebenarnya yang salah dengan Negara Irak?” Kenapa intensitas konflik dengan negara tetangga, dalam hal ini Iran dan Kuwait, cukup tinggi. Secara sederhana, kita dapat menelisik jawaban tersebut dari sisi historis, yaitu ketegangan antara bangsa Arab dan bangsa Persia, ditambah dengan klaim kebenaran absolut teologis antara kelompok Sunni dan Syi’ah. Dari sisi geografis, masalah air dan sengketa perbatasan masih menjadi penyebab utama. Hal ini semakin ditambah rumit oleh keberadaan suku Kurdi yang menyebar di wilayah Irak bagian Utara dan daerah-daearah pegunungan. Mereka berusaha mendapatkan kemerdekaannya dengan meminta dukungan Iran dan Israel. Walhasil konflik di negara Irak akan semakin parah karena Irak merasa diintervensi oleh pihak asing. Dari sisi politik adanya kepentingan asing, dalam hal ini negara-negara super power yang menganggap bahwa untuk menguasai wilayah Timur Tengah yang kaya dengan sumber minyak harus dimulai dari wilayah bulan sabit subur. Wilayah tersebut merupakan perbatasan konfrontasi (frontier of encounter) yang sangat vital bagi strategi hegemoni masing-masing superpowers.

Pamor oh Pamor...

Pamor, mungkin kata itulah yang menggoda pikiranku siang ini. Kata “pamor” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh Poerwadarminta (1976:700) memiliki tiga makna leksikal, yaitu: (1) sebuah baja putih yang ditempatkan pada bilah keris dsb: mis. batu yang mengandung pamor; (2) lukisan pada bilah keris dsb yang dibuat dari baja putih; mis. keris yang elok pamornya; makna (1) dan (2) bisa dilihat pada gambar di atas, (3) bermakna kiasan, yaitu: seri, semarak (keindahan, kemuliaan, dsb); mis. orang yang sudah hilang pamornya. Adapun kata berpamor berarti memakai pamor.

Ternyata kata pamor yang saya pakai selama ini bukan makna sesungguhnya alias makna kiasan. Banyak sekali orang yang mendambakan akan pamor. Bahkan siang hari ini pun aku hampir terjebak untuk berpamor ria, padahal apa sih sebenarnya keuntungan dari pamor atau kemuliaan ini? Apa jadinya kalau kita hidup hanya sibuk ngurusin pamor, padahal hidup sekali adalah hidup yang berarti, bukanlah hidup yang berpamor. Ternyata manusia masih sibuk dan sering terjebak untuk mencari pamor yang makna aslinya sebenarnya adalah baja putih atau lukisan pada sebuah keris. Atau mungkin hal ini sudah menjadi fitrah manusia untuk terus mencari pamor, dari wong cilik sampai anggota DPR, pejabat, semua sibuk mencari pamor, wa bil khusus para selebritis, sampai istri seoarang ustadz ternama pun ketika sedang merawat diri di rumah kecantikan diliput media, semua hanya atas nama pamor.

Ternyata pamor memang masih menggiurkan di mata manusia. Sebenarnya wajar jikalau manusia mencintai pamor atau keindahan ini, namun yang jadi masalah adalah batas dan kadar kecintaan tersebut pada sang pamor. Berlebihan atau tidak? Mungkin itulah pertanyaan untuk mengakhiri tulisan ini.. sekedar corat-coret di tanggal 10 Februari 2012.

Linguistik Antropologi: Alessandro Duranti

Di dalam buku ini, Alessandro Duranti (1997) menjelaskan hubugan interdisipliner antara ilmu bahasa (linguistik) dengan antropologi. Duranti mengenalkan konsep "linguistik-antropologi" yang ia gagas sebagai salah satu bentuk wilayah interdisipliner (interdisciplinary field) yang mempelajari "bahasa" sebagai sumber budaya (cultural resource) dan ujaran (speaking) sebagai bentuk kegiatan budaya (cultural practice). Penulis buku tersebut juga menunjukkan bahwa linguistik-antropologi juga terbentang luas bersama kajian Etnografi yang menjadi elemen penting dalam kajian ilmu bahasa. Kajian linguistik-antropologi tersebut juga menggambarkan mengenai inspirasi intelektual (intellectual inspiration) yang berasal dari hubungan interaksional, berdasarkan pada perspektif aktifitas dan pemikiran manusia. Dalam buku tersebut, penulis menjelaskan bahwa aktifitas ujaran manusia berdasarkan pada aktifitas budaya sehari-hari (culture of everyday life) dan bahasa merupakan piranti yang paling kuat (powerful tool) dibandingkan dengan kaca pembanding lain (simbol) yang lebih sederhana dalam kehidupan sosial masyarakat. Bab awal dalam buku tersebut menjelaskan mengenai gagasan budaya atau biasa disebut dengan the notion of culture. Selanjutnya dijelaskan mengenai metodologi dalam etnografi dan transkripsi. Adapun mengenai teori dan metodologi yang ada dalam linguistik-antropolgi dimulai dengan mendiskuisikan tentang lima hal penting berikut:
(1) linguistic diversity (aneka ragam/perbedaan dalam linguistik), (2) grammar in use (tata bahasa), dan (3) role of speaking in social interaction (kaidah ujaran dalam interaksi sosial), (4) the organization and meaning of conversational structures (makna dari struktur percakapan), (5) the notion of participation as a unit of analysis (pemikiran dan gagasan yang diikutsertakan sebagai sebuah unit analisis). Semoga manfaat..

Bahasa itu.."appear" lalu "disappear": sebuah tinjauan buku Tore Janson

Review Buku “Speak: A Short History of Languages” Karya: Tore Janson. Sebuah Sejarah Singkat tentang bahasa-bahasa. Penerbit: Oxford University Press Tahun 2002. Tebal 301 halaman beserta indeks.

Dua ribu tahun yang lalu, bahasa Inggris itu tidak ada, belum eksis. Namun sekarang bahasa tersebut digunakan. Meskipun suatu saat di kehidupan yang akan datang bahasa Inggris tidak lagi digunakan. Hal yang sama terjadi pada semua bahasa; bahasa-bahasa tersebut muncul dan eksis digunakan pada suatu saat lalu menghilang. Dibahasakan oleh penulis buku tersebut dengan kata “appear” lalu “disappear” dua kata inilah yang cukup unik dalam bahasa Inggris, sehingga apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada semacam rasa kebahasaan (dzauqul-lugah) yang hilang. Terlepas dari pembicaraan dua kata tersebut, penulis buku menjelaskan bahwa ada semacam perbedaan yang cukup menonjol di antara bahasa-bahasa di dunia, yaitu ada beberapa bahasa yang hanya digunakan pada masa generasi tertentu saja, namun ada pula bahasa yang digunakan selama beribu-ribu tahun (millennia).

Adapun ada pula bahasa yang hanya dipakai oleh sedikit saja penuturnya namun di satu sisi ada bahasa yang digunakan oleh ribuan orang. Penulis buku membahasakannya dengan a “handful” of people dan “hundreds” of millions dalam mengkontraskan dua keadaan tersebut. Sejatinya bagaimana bahasa-bahasa itu bisa muncul (arise) dan lenyap (vanish) dan mengapa bahasa-bahasa tersebut memiliki takdir yang berbeda-beda? Kedua permasalahan tersebut merupakan isu-isu sentral yang harus dijawab dan dikerjakan dengan menelisik kembali dari apa yang sebenarnya terjadi dengan penutur dan pemilik bahasa tersebut. Dengan kata lain, bahasa memiliki ketergantungan terhadap sejarah (languages depend on history), namun di sisi lain peristiwa-peristiwa sejarah juga tergantung kepada bahasa-bahasa yang digunakan oleh manusia (historical events also often depend on which languages people speak). Oleh sebab itulah dapat disimpulkan kembali bahwa sejarah dipengaruhi oleh bahasa (history is affected by languages) dan bahasa merupakan bagian dari sejarah (languages are a part of history). Jadi aturan-aturan ilmu bahasa dalam sejarah merupakan subyek utama dari buku hebat ini.

Buku ini cukup sederhana untuk memahami interaksi antara ilmu bahasa dengan sejarah (how languages and history have interacted). Buku ini juga cukup mudah untuk dipahami karena analisis di dalamnya tidak terlalu berbelit-belit dengan argumentasi sejarah maupun teori ilmu kebahasaan. Buku ini terdiri dari 13 bab utama, bab pertama membahas mengenai bahasa-bahasa sebelum sejarah (languages before history), selanjutnya mengenai kelompok-kelompok pemilik bahasa besar di dunia (the large language groups), korelasi antara asal-usul tulisan dan bangsa Mesir (writing and Egytian), perbedaan antara Greek dan the Greeks, selanjutnya juga ada bab mengenai hubungan antara bahasa Latin dan bangsa Roma. Ada pula judul yang membahas mengenai: Dari bahasa Germanic menuju bahasa Inggris Modern, Era bahasa-bahasa nasional, Bahasa-bahasa Eropa dan bahasa-bahasa dunia, bagaiamana sebuah bahasa itu lahir dan dibuat, dan bagaimana kemudian bahasa-bahasa itu lenyap. Semua ada tersaji di dalam buku kecil ini. Selamat Membaca semoga manfaat barakah.